Selasa, 03 Januari 2012

Mama...

H-5 dan aku sesenggukan gak keruan. This is the jitters coming tapi sangat berbeda sekali dengan yang banyak aku dengar tentang wedding jitter. Aku gak bisa berhenti mikirin mama. Aku gak bisa berhenti ngerasa guilty sama mama. Air mataku sampai seperti mau habis karena kebayang mama.

Dua puluh empat tahun hidupku sampai sebentar lagi akan berganti kiblat kepada suami, tapi aku masih belum bisa membalas segala pengorbanan mama. Banyak sekali hari-hari di mana aku tahu aku gak sanggup nyakitin hati mama but seemed like I was too weak to stand up for myself, for mom. Aku tahu, gak akan pernah mungkin kita bisa membalas jasa seorang ibu bagaimanapun suksesnya kita sebagai seorang anak yang soleh, tapi...setidak2nya ada orang2 yang diberi hidayah untuk tidak pernah menyakiti hati ibunya. And me? Deep inside i'm pretty sure that I was born just to hurt her...

Aku gak sanggup pulang.
Aku gak sanggup melihat kerut-kerut halus di wajah cantiknya, liat kantung mata yang semakin lama semakin gelap, gak sanggup, melihat pandangannya yang menerawang, kontras sekali dengan bibirnya yang tersenyum dan berkata everything is alright. Aku gak sanggup melihat itu semua yang karena aku!!!

And here comes the jitter. Hatiku tidak bisa berhenti bertanya mengapa surga istri adalah di suaminya. Kenapa setelah menikah orang tua tidak punya hak lagi terhadap anak perempuannya sedangkan yang sudah susah payah membesarkan anaknya itu adalah orang tuanya! Mengapa suami bisa mengambil "privilege" ibu serta meletakkan laknat malaikat jika istrinya sedikit saja tidak patuh??

I'm scared. Very scared of having limitation to please mom later because of my obligation as a wife. Ampuni aku ya Allah, karena meragukan ajaran-Mu. Engkau Maha Tahu yang terbaik untukku, dan inilah hamba yang mengemis2 dan mengiba penuh kehinaan, agar Engkau berkenan membahagiakan hati orang tua hamba, menyayangi mereka jauhh lebih dari mereka menyayangiku, meletakkan mereka dalam derajat yang tinggi, serta menghapus segala kesedihan dan kedukaan dari hati mereka. Sungguh hamba hina dan mengiba demi ini ya Allah...hanya demi mama...