Senin, 28 Januari 2013

Doctor-titiled Nanny

Jadi...
gw lagi nungguin eyang MRS di paviliun RSUD Sidoarjo. Namanya sih paviliun, emang sih perawatnya lebih sopan dan sabar dibandingin yang bangsal2, tapi ternyata tetep aja ya masalah di Indonesia ni selalu sama, pasien dan keluarga pasien selalu dianggap orang yang "ra ngerti opo2" jadi "ora usah dijelasin opo2" sama dokter dan perawatnya. Dokternya sih better ya, kalo kita sopan baik2 bilang mau diskusi mereka welcome kq menjelaskan secara detil, tapi kenapa ya keluarga pasien yg kritis selalu diikuti pandangan yang sinis dari perawat2nya. Don't know why...

Sempat merasa kecewa juga waktu terakhir opnam rawat bersama SpPD dan SpU. Yang bikin sebel tu mereka terlihat gak ada koordinasi dan diskusi sama sekali ya, jadi kl ditanya SpPDnya "ya kalo dari sy sih ini sudah boleh pulang, tapi terserah SpU nya" dan sebaliknya. Capek gak sih dipingpong gitu. Even though I"m at the system now, i feel disappointed at this system. Gak heran kalo banyak orang berduit lari ke luar negeri. All they need is just some thorough explanation. Mereka butuh update, penjelasan, diskusi bersama, itu yang gak mereka dapatkan di sini. Dokter semakin senior rata2 semakin "pelit" penjelasannya, kalo visite cuma tutul2 stetoskop, bilang "cepet sembuh ya pak" dah keluar gitu aja. Kalaupun rawat bersama mereka gak ngejelasin hasil diskusinya, yah i know sih mereka juga gak bener2 diskusi, cuma saling mengisi lembar konsul. Jadi meskipun dokternya sama2 pinter, tapi gak berasa what their money worth for.

Aku juga kekny kalo entar harus sakit yang multidisiplin pengennya ke negara2 tetangga aja, i understand, teori sama, obat sama, but "merasa diopeni"nya itu yang penting. Sekianlah terima kasih curcol pagi kali ini post jamal eyang.

Btw, ikhlas itu beda tipis ama cuek ya ;p