Senin, 30 September 2013

Coba-coba Main Polyvore...

Berawal dari keinginan berhijab sesegera mungkin, tapi masih males hunting amunisi, ya sudahlah sementara main2 dulu hijab style di polyvore.


Jumat, 20 September 2013

Aku Punya Masalah

Ya. Aku punya masalah. Tidak mudah mengakui bahwa aku sedang punya masalah, bahkan kepada diri sendiri. Terutama jika masalah ini secara sadar memang memalukan untuk diakui, dapat menyebabkan celaan dari orang lain terhadap diri, dan seperti menjatuhkan harga diri sendiri. Bahkan untuk memulai sharing di sini pun sulit, minder sudah menguasai 90%.

Lalu apa masalahnya? Minder. Introvert. Anti-sosial. Pesimistis. Tidak mau keluar dari zona nyaman. Labil. Nesuan. Ya. Itu masalahnya. Sederet sifat yang sesungguhnya sangat tidak aku sukai, tapi sebetulnya aku sedang mengalami. Bukan masalah baru sebenarnya, masalah lama yang memang sudah aku sadari penuh dari dulu bahwa karakter introvertku terkadang berbuntut tidak enak. Tapi entah kenapa kali ini terasa berat karena sekarang semuanya sudah murni tanggung jawab sendiri. Tidak bisa mendompleng nama orang tua lagi. 

Dulu aku tidak peduli dengan menyapa atau membaur dengan tetangga sekitar. Karena itu tugasnya orang tua, dan aku tinggal dikenali sebagai anak. Anak bawang. Introvert tidak pernah terasa bermasalah karena kegiatanku sudah seabrek, sekolah, les, ekskul, olahraga. Sekolahku sendiri sudah memberlakukan sistem rolling tiap tahun, selalu mengacak kelompok2 murid untuk kegiatan apa saja, sehingga yang introvert mau tak mau harus berbaur, yang malu mau tak mau jadi bergaul. Karena bukan diri sendiri yang memulai, tetapi sistem. Waktu masih jadi anak mama dan papa, orang tau aku karena kemampuanku, pidato bahasa inggris, bintang pelajar, bisa tenis, karate, piano. Arisan keluarga besarpun terasa mangasyikkan karena aku dikenal tanpa harus aku mengenal siapa mereka. Tapi sekarang beda. Aku harus sanggup membawa nama sendiri tanpa mendompleng orang tua. Masuk komunitas baru yang tidak tau kemampuanku di masa lampau membutuhkan perjuangan tersendiri terlebih karena aku minder bukan main.

Rumah jadi terasa tidak heaven karena masalah ini, karena pikiran-pikiran negatifku sendiri yang tidak mampu aku atasi. Ditambah masih belum mahirnya aku menjadi istri, ibu rumah tangga. Entahlah, di kepala, rasanya semua pekerjaan yang aku lakoni ini seperti pekerjaan ibu rumah tangga. Dari kecil aku tidak mengenal sosok orang tua atau keluarga yang mengkonsepkan arti kata "istri" dengan "pekerjaan rumah tanngga" seperti memasak, mencuci, ngepel. Papa seolah mendoktrinkan di kepalaku bahwa itu adalah tugasnya pembantu. Tugasmu nanti setelah dewasa adalah sekolah yang tinggi, dapat pekerjaan yang bergengsi dan bisa membanggakan orang tua dan diri sendiri. Plus bisa punya penghasilan yang cukup buat gaji pembantu. Otomatis ada keengganan yang amat sangat ketika aku harus mengerjakan itu semua sendirian, dan belum mampu gaji pembantu. Tidak pernah sedikitpun aku dikenalkan dengan konsep "melayani suami". Oleh mama pun tidak. Karena aku juga tidak pernah melihat mama "melayani" suami. Interpretasiku ketika itu adalah bahwa mama "mendampingi" suami. Dan terbawa sampai sekarang.

Lalu menyerahkah aku? Tidak. Pastinya tidak. Sebetulnya ada keinginan yang begitu membuncah untuk bersosialisasi. Lalu membanggakan diri sebagai istri yang sukses mengurus rumah tangga. Tapi namanya zona nyaman selalu merusak semuanya dan lagi-lagi aku menyalahkan diri karena tidak kuat mengangkat diri sendiri. Semuanya simpel, sebetulnya. Aku harus mulai sekarang.