Senin, 24 Juni 2013

To be a lifetime learner


Ada beberapa "tanda" yang harus diwaspadai sebelum berangkat jaga:

  1. Hati yang terlalu girang, excited, like a brand new spirit
  2. Excitement tadi entah gimana caranya berbarengan dengan perasaan hampa, kosong, berkabut (apa sih)
  3. A short, brief, unexplainable stomachache, seperti petir yang tiba2 muncul di siang bolong.

Biasanya kalau sudah ada "trias" ini, ya jagaku pasti memusingkan. Bukan sekedar pasiennya banyak, tapi lebih kepada melelahkan emosi jiwa. Dan semua berawal dari ketidaktahuan. Nescience leads to doubtness, doubtness leads to carelessness, carelessness leads to wrong clinical judgement, wrong judgement leads to...morbidity. Ini bisa menghantuiku berhari-hari. And it happened last night.

I'm not gonna talk about my clinical judgement last night, tapi i'm fully aware kalo the lack of knowledge, of competence itu bahayanya luar biasa. Mungkin banyak yang bisa mengabaikan dan mencari pembenaran diri tapi kalau liat film2 dokter luar negeri, aku selalu bertanya-tanya, bisa gak ya aku seperti mereka? I admit that i learn so much from a mistake, from a complicated case, from a live experience rather just a book theory. But still, to be responsible of their live, gosh! Such a huge burden...

So I'm not gonna stop being a learner, cause I'm not gonna stop being responsible for my patients, my teachers.

Minggu, 23 Juni 2013

Where's the "spark"?

Aku suka membaca. Aku suka memahami. Aku suka terinspirasi. Tapi kenapa setiap kali ingin menulis dan bercerita, yang ada lidahku jadi terbata-bata, otakku seperti asing dengan tulisan dan melempem saja mematung. Mungkin inikah apa yang disebut unfinished business? My unfinished business. Keinginan masa lalu untuk bisa menghasilkan sesuatu lewat tulisan sekarang terasa...stuck. Entahlah, apa yang hilang. Atau, seperti ada yang hilang dan perlu kucari di masa lalu supaya bisa hidup kembali. Cahaya itu, (huh, bad translation), i prefer call it "spark". Yes. The spark. The spark to inspire. To be inspired. To keep alive and live. Mana itu sekarang kok tak ada?

Senang rasanya kalau googling sesuatu dan terdampar di blog-blog orang yang tulisannya mencerahkan. Bukan sekedar puitis, galau atau picisan. Tapi berisi, bermakna, dan indah. Buah pemikiran dan penghayatan si penulis tentang apa saja, hidup, rutinitas, bahkan cinta yang tak sekedar romantis. Seperti membaca Dunia Sophie untuk pertama kalinya. Penuh ketidakmengertian, kepura-puraan untuk paham, pastinya takjub. Ada ya kepala orang dengan isi semenarik itu? Atau bayangkan pertama kali membaca ksatria, putri dan bintang jatuh dan pamer ke semua orang bilang kalo bukunya bagus banget. Padahal 80% isinya tak kau mengerti. Dan itulah yang ingin aku temukan, ketakjuban dalam ketidakmengertian, tapi 100% merasa. 

Sekarang ini banyaknya berlogika dan berencana. Sebagai istri yang harus direncanakan banyak, kebutuhan bulanan, program anak, asuransi dan investasi, di samping keinginan untuk liburan. Ada rejeki dikit mau dibelanjakan itu takut-takut, penuh perhitungan dan keragu2an. Akhirnya kalau lagi sumpek malah dihambur2kan gak jelas dan frustasi lagi karena keuangan masih berantakan. Ruang untuk berkreasi jadi sempit. Belum menemukan cara agar bisa berjalan paralel dan seimbang. Karena yang berjalan sempurna hanyalah Dia.