Jumat, 14 Agustus 2015

Belajar Menulis Cerpen

Judulnya oke banget ya, tapi setelah menulis rencana plot2nya, konflik, tokoh, trus "kriingg..." ada telepon masuk, beres2 urusan sebentar, begitu balik ke kompi, ilang mood deh. Apus lagi...
Gimana ya biar bisa semangat. Akhirnya kembali ke kebiasaan lama, ngeblog aja. Tapi di jam kantor, harusnya sih gak boleh. Tapi pikiran butuh refreshing sejenak.
Di antara sekian banyak keinginan, target 1 bulan ini pengen sudah melaksanakan:
  1. Rutin lari minimal 3x seminggu. Sudah dikasi kesempatan kerja kantoran kq ya masih males olahraga ya nemen tho...
  2. Rampung dua cerpen. Karena satu terlalu mainstream.
  3. Berhijab. Agak kecewa juga kesalip sama temen, padahal niat udah 70% akhir ramadhan sudah harus berhijab. Yah namanya setan gak berhenti2 berkumandang di telinga ini.
  4. Akhir bulan harus sudah menentukan mau spesialis apa. Ini sudah titik persimpangan, kalo ditunda lagi nanti kelamaan.
  5. Hmm...potong rambut. Udah kepanjangan.
Kalau ditanya mana yang prioritas? Agak sulit. Karena rasanya semuanya sama2 penting. Ada yang penting untuk aspek kesehatan, aspek karir dan masa depan, aspek keimanan. Semoga semua bisa terlaksana. Kalo bojo kebetulan baca semoga bisa ikut memotivasi. 


Selasa, 11 Agustus 2015

Pembelajaran...

Jam segini masih di kantor, niatnya mau berkeluh kesah karena bete habis bersinggungan dengan salah satu rekan sejawat, apa daya bb habis batere dan gak bawa tab, sementara facebook diblock. Padahal dari kemarin sudah janji sama diri sendiri mau latihan nulis yang bermanfaat. Lah tapi ujung2nya niat menulis selalu datang di saat ada emosi jiwa. 

Ini bukan tentang apa2, hanya sebuah pembelajaran, bahwa hidup itu gak kekal. Jadi seharusnya, semua masalah gak perlu sampai me"neraka"kan hidup yang sedang kita jalani. Kerikil pasti ada, batu2 licin yang membuat terpeleset, pasir2 halus yang membuat sesak, ya akan terus ada. Tapi semuanya pasti berlalu. Lecet ya sudah, sesak ya gakpapa, tinggal hirup napas panjang dan syukuri nikmat lain yang masih ada. Toh lecet itu juga anugrah karena masih diberi kehidupan...

Tiga bulan lebih di divisi baru ini sebetulnya banyak sekali kerikil tajamnya, yang masih membuat semangat hanyalah niat belajarku saja. Seperti sekolah lagi, banyak sekali ilmu yang didapat, yang mungkin gak akan pernah bisa aku dapetin kalau aku kerja di rumah sakit yang lebih mapan. Aji mumpung sih ceritanya, tapi niatku insya Allah tulus, mencoba membantu dengan semua kemampuanku. Kalau sudah dicoba dan masih terus jatuh, lecet, dan malah merepotkan orang2, ya mungkin itu saatnya keluar, tapi semoga jika saat itu tiba, Allah kasih petunjuk, sehingga bisa tahu langkah yang tepat, yang membawa kebaikan untuk diri sendiri dan keluarga. Insya Allah...

Hablumminannas...terkadang terpikir, di mana letak salahku di mata-Nya sehingga habluminnannas itu sering terasa sulit?