Sabtu, 22 Agustus 2020

Menunggu Hasil Swab

 Hari ini swab ke-4 sejak pertama kali positif, pas hari ke-28.

Ada yang beda dari swab2 sebelumnya. Biasanya berangkat swab itu semangat, dengan bayangan sebentar lagi pulang. Tapi kali ini entah kenapa gak semangat, dari semalem udah nangis aja, pasrah, tapi masih diliputi ketakutan, takut positif lagi dan takut nerima reaksi kecewa orang-orang terdekat.

Nothing's wrong with my body, udah gak ada keluhan apa2 (kecuali jerawat di ujung lobang idung sakit). Tapi seperti 2x swab sebelumnya yg masih positif, jujur takut banget nerima respon2 kayak gini:

"Sabar yaa...tetap semangat"

"Ya udah pasrah, mau gimana lagi..."

"Kamu mau di graha ara sampe negatif apa cukup CT di atas 35?" (dah 2x ditanyain)

"Gimana kabar hari ini? Kamu ada keluhan?"

Sebenernya what's wrong with those question? Gak ada. They care so much, and I'm feeling blessed surrounded with people that love me so much.

Masalahnya, semakin hari, semakin datar dan semakin basa basi aku jawabnya karena, yah...mereka juga pasti bingung harus ngomong gimana ke aku. They dont know how it feels to be me so they just being polite. Cuma mungkin ada sedikit perasaan, entah sensi aja entah beneran, seolah-olah kalo aku masih positif berarti masih ada kesalahan yg aku lakukan. Entah gak sabar, gak semangat (makanya disuruh sabar dan semangat terus), entah dikira gak ngikutin saran2 semua orang, minum ini itu, like I'm being judged for being positive (while they actually never meant to judge).

So yes this waiting time is frightening as hell, more frightening than the first swab. I'm scared to death to the response.

Trus kamu maunya gimana sih? Ngarepin apa sih emangnya dari orang2? 

Entah ya, mungkin aku cuma butuh respon yg lebih santai, yg lebih nerimo, dan tidak menjadikan hasilku nanti apapun itu, membuat semua orang mengasihani aku. Like...

"Sek positif? Wah enak nemen tambah suwi liburane"

"Halah ya wis yun dinikmati ae, disuruh lari tiap hari, kamu sih ga pernah olahraga selama ini"

"Masih positif? Wah suwi2 buka kantin kamu di sana"

I need my people to be happy together with me, to laugh together, not reminding me to feel sad.This is not a bad thing. Aku punya sajadah tempat aku bisa berderai air mata saat aku butuh. But I won't share my sadness with everyone. 

...

Tapi kamu tetap harus memilih untuk bersikap sopan dan menaggapi pertanyaan2 mereka dengan sopan dan dengan ceria. Bukan untuk mereka, tapi untuk kamu sendiri. Sedekahlah dengan berbuat baik dan menyenangkan hati orang. Bersyukur karena masih banyak yang sayang. In every way they can.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar